Wawancara Hanna Tresya, sang Psikolog Freelance

Hai teman-teman pembaca Entrepreneur Rumahan

Mulai hari ini aku akan menampilkan wawancara-wawancara orang-orang Indonesia yang sukses mendapatkan uang dari rumah. Sukses di sini bukan berarti telah mendapat materi berlimpah ya… Ada yang sudah mendapatkan materi berlimpah, ada yang belum. Namun semuanya mendapatkan hal yan tidak bisa didapatkan di tempat lain: Kebebasan waktu serta Kebebeasan untuk bekerja dari mana saja, termasuk di rumah. Sebagian besar berprofesi sebagai Entrepreneur, namun sebagian bekerja secara freelance.

Sebagai pembuka, aku baru saja mewawancarai Hanna Tresya,  sahabat sekaligus rekan di Schoola! Hanna adalah psikolog freelance atau yang biasa disebut “asongers” karena Hanna menggunakan ilmunya untuk bekerja sebagai profesional di berbagai biro. Meski tidak 100% bekerja di rumah, Hanna bisa mengatur jadwal kerjanya, di mana ia hanya mengambil proyek yang sesuai dengan waktunya.

Catatan Penting: Untuk menjadi serorang Psikolog Freelance, diperlukan Gelar Profesi Psikolog. Gelar profesi Psikolog bisa didapatkan dengan menyelesaikan kuliah S1 Psikologi dan melanjutkannya ke S2 Profesi Psikolog.

Hai Han.. Kenalan dl yuk ke pembaca Entrepreneurrumahan.com

Halo.. Namaku Hanna, sekarang usianya 26 tahun dan bekerja sebagai Psikolog Freelance, atau biasa disebut “asongers”, karena aku bekerja di beberapa biro Psikologi yang membutuhkan jasa Psikolog profesional.

Bisa ceritakan pekerjaan Hanna saat ini sebagai Psikolog Freelance?

Pekerjaanku sebagai psikolog freelance adalah melakukan pemeriksaan psikologis seperti pekerjaan psikolog pada umumnya. Asesmen yang dilakukan beragam sesuai dengan kebutuhan, bisa psikotes,konseling, focus group discussion atau wawancara yang membutuhkan analisis psikologi. Bedanya dengan psikolog yang bekerja di institusi, aku bekerja menjadi associate/freelance di beberapa biro, tidak menetap di satu tempat.

Karena latar belakang pendidikanku psikologi pendidikan, asesmen psikologisnya kebanyakan asesmen pendidikan, contohnya tes bakat minat, konseling karir untuk remaja, asesmen untuk penempatan pendidikan (seleksi, dan lain-lain).

Bagaimana jadwal Hanna sehari-hari, khususnya kalau sedang ada Job sebagai Psikolog

Keseharianku tentunya tergantung jadwal proyek atau konseling klien. Hal yang menarik dengan menjadi asonger adalah kita bisa mengatur keseharian kita sendiri karena tidak terikat dengan jam kerja 8-5 seperti kalau kita bekerja di kantor atau institusi. Walaupun begitu, aku tetap punya jadwal sehari-hari kok, artinya hidup tetap teratur, bekerja di pagi-siang lalu diselingi istirahat dan bahkan malamnya kembali bekerja lagi. Tetapi karena jadwal tersebut kita yang mengatur, menjalaninya juga dengan senang hati.

Menurut Hanna, apa kelebihan dari karir Hanna saat ini?

Hmmm, kelebihannya, aku punya kesempatan untuk mengatur waktu dan kehidupanku.

Di samping itu, dengan menjadi psikolog freelance, pengalamanku sebagai psikolog menjadi variatif karena bekerja di beberap biro dengan orang yang berbeda-beda dan jenis pekerjaan yang berbeda-beda pula.

Ini merupakan sesuatu yang priceless karena akhirnya aku belajar untuk berusaha memahami perbedaan dan belajar untuk menghadapinya dengan baik, belajar untuk bisa mengatur waktu dan mengenal kekuatan diri, dan masih banyak lagi pembelajaran lainnya. Di samping itu, kesempatan untuk mengatur waktu sendiri juga membuat aku mampu membuatku lebih seimbang, yaitu punya waktu secara seimbang untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk teman, dll. memang kemampuan mengatur diri itu mutlak harus terus ditingkatkan oleh psikolog freelance 😀

Hambatan apa yang dialami Hanna selama menjadi psikolog freelance? Bagaimana cara mengatasinya?

Sejauh ini hambatan terbesar terjadi saat jadwal kerja mudah berubah, misalnya tiba-tiba klien memberitahu tidak bisa datang atau ketidakpastian akan jadwal kerja. Nah, itulah tantangannya jadi asonger adalah menghadapi “ketidakjelasan” seperti itu. Namun lama kelamaan bisa kok mensiasatinya.. Misalnya nih: kalau memang klien tidak jadi datang ya kita kerjakan laporan untuk kerjaan yang lain saja. Menjadi psikolog asonger memang juga berarti melatih fleksibilitas diri. 😀

Apa yang memutuskan Hanna untuk menjadi Psikolog Freelance?

Pada awalnya memilih untuk jadi asonger karena ingin memperbanyak pembelajaran akan dunia profesi psikolog. Dengan menjadi asonger, bisa belajar jenis kasus yang lebih variatif dan jenis pekerjaan yang lebih beragam.  Alasan kedua adalah alasan pribadi sih, dengan jadi psikolog asonger punya kekuatan untuk mengatur waktu dan kegiatan sendiri.

Selain Psikolog freelance, apa kegiatan Hanna lainnya?

Selain bekerja aku juga memiliki kegiatan lain. Saat ini, aku sedang menjadi psikolog voluntir di sebuah sekolah informal untuk mantan anak-anak yang hidup/bekerja/rentan jalanan, yang dikelola oleh Organisasi nirlaba bernama Sahabat Anak. Ya, lagi-lagi dengan jadi asonger aku bisa mendapatkan pembelajaran yang unik karena punya waktu untuk menjadi teman bagi adik-adik di sana.

Terakhir.. Bagi-bagi dong tips bagaimana menjadi psikolog freelance yang sukses :)

Kemampuan untuk mengatur diri sendiri, atau istilah psikologinya: Regulasi diri, itu kuncinya. Artinya, kita harus bisa mengatur waktu dan diri dengan baik. Kita perlu mengenal kemampuan diri untuk tahu pekerjaan apa yang bisa dan belum bisa kita lakukan. kita perlu menetapkan prioritas dengan baik karena bisa jadi dalam satu waktu kita mengerjakan banyak hal sekaligus. trus, latihlah sikap terbuka kita akan pengalaman baru, perubahan dan perbedaan (ini aku masih belajar terus). dan last but not least, kita harus tahu kapan kita butuh waktu untuk recharge agar bisa bekerja optimal karena jadi asonger bukan berarti kita menyepelekan kualitas pekerjaan loh justru harus menjaga kualitas kerja kita. 😀

—-

Nah begitulah keseharian Hanna Tresya, seorang psikolog freelance atau yang biasa disebut sebagai “asongers”. Oh ya sekedar informasi saja, Hanna memiliki tipe minat Investigatif, Sosial dan Artistik. Minat Investigatif Hanna tampak dari kesukaannya dalam mengerjakan proyek-proyek psikologi yang membutuhkan pemikiran mendalam, sedangkan minat sosial Hanna ditunjukkan oleh minat serta kepeduliannya untuk menjadi voluntir bagi anak-anak jalanan. Sedangkan minat Artistiknya, dituangkan dengan menjadi penikmat sastra dan puisi.

Oke Han, makasih banyak ya atas kesediannya untuk diwawancara ya :)

Di artikel selanjutnya, Entrepreneur Rumahan akan menampilkan wawancara eksklusif dengan Yodhia Antariksa, founder dari blog Strategi Manajemen , CEO dari PT Manajemen Kinerja Utama serta owner dari Raja Presentasi. Stay tune ya!

Speak Your Mind

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.